Jangan Stigma Saya dan Anak Saya

Perempuan itu bernama Seni Septiani. Usianya kini 23 tahun. Dua tahun lalu, ia mengalami guncangan besar dalam hidupnya. Ia terdeteksi mengidap HIV.

 

Awalnya, Seni tidak percaya dirinya tertular HIV. Saat itu, ia juga menganggap dirinya akan cepat mati. Dalam hati, ia mengakui jika pekerjaannya yang dulu sangat berisiko tertular HIV. Ia pernah bekerja sebagai terapis di sebuah panti pijat “plus-plus” di Jambi. Ia berhenti kerja setelah menikah dengan pria setempat. Namun sayang, usia pernikahannya hanya berlangsung tiga tahun.

Tapi ketakutan terbesarnya saat mengetahui terinfeksi HIV adalah tentang anaknya. Saat itu, ia memang sedang hamil dua bulan. Bagaimana jika anaknya juga tertular? Bagaimana jika orang lain tahu?

Apa yang dia takutkan terjadi. Saat itu salah seorang staf puskesmas tempat ia memeriksakan diri membuka status HIV-nya pada seorang kader posyandu. Maksudnya, agar Seni didampingi ke layanan care, support, and treatment (CST – dukungan pengobatan dan perawatan) di Rumah Sakit Umum Daerah Indramayu, Jawa Barat. Bukannya didampingi, kader itu malah menyebarkan informasi tentang status HIV Seni pada orang di sekitarnya.

Kurangnya pengetahuan tentang cara penularan dan pencegahan HIV-AIDS, akhirnya membuat dia mendapat perlakuan yang diskriminatif dan pandangan buruk (stigma) dari orang di sekitarnya.

Keluarganya tidak ada yang mau bicara lagi dengannya. Takut tertular.

Hal ini berdampak buruk padanya. Seni jadi lebih banyak mengurung diri di kamar. Dia merasa tidak ada lagi keluarga yang menyayanginya. Dia jadi susah tidur karena takut besok akan mati.

Semakin hari usia kandungannya makin bertambah. Perutnya pun semakin besar. Karena takut kandungannya bermasalah, akhirnya dia berkeluh kesah pada saudaranya yang aktif di posyandu. Sebagai kader posyandu, saudaranya ini cukup paham tentang HIV dan AIDS. Dia mendampinginya ke rumah sakit.

Upaya untuk menghilangkan stigma dan diskriminasi pada orang dengan HIV-AIDS pun mereka lakukan. Berdua dengan saudaranya, Seni melakukan sosialisasi tentang cara penularan dan pencegahan HIV-AIDS. Caranya dengan “door to door”. Mereka mendatangi setiap kumpulan ibu-ibu di sekitar rumahnya. Tentu saja, mereka juga memberikan informasi dasar HIV pada anggota keluarganya yang lain.

Setelah masyarakat sekitar mulai tahu tentang informasi dasar HIV-AIDS, Seni merasakan stigma dan diskriminasi yang dia alami secara perlahan berkurang. Dia kembali memiliki semangat hidup. Dia tidak merasa sendiri lagi karena warga sekitar sudah mau berinteraksi dengannya. Hatinya pun gembira karena keluarganya kembali dekat.

Pada 25 April 2016, Seni melahirkan anak melalui operasi Caesar di RSUD Indramayu, Jawa Barat. Dia berbahagia. Anaknya lahir dengan selamat.

Namun dalam hati, dia masih menyimpan pertanyaan besar. Apakah anaknya ikut tertular HIV? Apakah nanti ia akan diperlakukan sama juga oleh orang lain? Ia gelisah ketika mengingat kejadian saat anaknya baru lahir. Tidak ada seorang pun saat itu yang berani memegangnya. Takut tertular HIV.

Empat bulan kemudian, dia membawa anaknya mengikuti tes HIV untuk pertama kalinya. Rasa takut itu kembali muncul. Badannya lemas. Jantung berdegup kencang saat akan berangkat ke puskesmas. Bagaimana pun, dia khawatir anaknya tertular HIV.

Waktu pun berlalu. Anak Seni kini berusia dua tahun empat bulan. Balita mungil ini sudah dua kali melakukan tes HIV. Hasilnya negatif alias tidak terdeteksi HIV.

Seni bisa membuktikan jika ibu pengidap HIV bisa melahirkan dan tidak selalu menularkan HIV pada anaknya. Syaratnya, dia harus rutin mengonsumsi obat anti–retro–viral (ARV). Obat ARV ini memang tidak bisa menghilangkan HIV, namun dapat menekan perkembangbiakannya dalam tubuh. Dengan begitu, kesehatan Seni tetap terjaga. Selain itu, dia juga harus mengikuti Program Pencegahan Penularan Ibu kepada Anak bagi perempuan pengidap HIV yang ingin memiliki momongan.

Berbagai peristiwa yang pernah ia alami membuatnya kian semangat berbagi informasi tentang HIV-AIDS. Baginya, informasi yang benar tentang HIV-AIDS harus disampaikan, meski dengan langkah kecil seperti yang ia lakukan dengan cara dari pintu ke pintu pada tetangganya.

Artikel ini merupakan karya Hasby Ash Shiddieqy, salah seorang peserta Lokakarya Jurnalisme Warga yang diselenggarakan Rumah Cemara di Denpasar, 24-27 Juli 2018.

Sumber : rumahcemara.or.id

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *