TINGGINYA PERNIKAHAN USIA MUDA, BKKBN ADAKAN DISKUSI KESIAPAN DAN PERENCANAAN BERKELUARGA BAGI REMAJA

JAKARTA (30/08/2018) — Pernikahan anak dan pernikahan dini berpotensi untuk mengalami kegagalan dalam membangun keluarga. Data BPS (2010) menunjukkan bahwa kasus perceraian tertinggi menimpa kelompok usia 20 – 24 tahun dengan usia pernikahan belum genap lima tahun. Diduga, tingginya angka perceraian pada kelompok tersebut sebagai akibat pernikahan yang dilakukan pada usia muda sehingga belum siap dalam menjalani kehidupan berkeluarga. Tingginya jumlah pasangan muda yang bercerai akibat ketidaksiapan mereka dalam menjalani perkawinan mengindikasikan banyaknya pasangan muda yang sesungguhnya belum memperhatikan kesiapan menikah. Hanya sedikit dari remaja yang telah mendapat informasi yang cukup mengenai pernikahan dari keluarga maupun lingkungan mereka. Dan masih sedikit pula (baik laki-laki maupun perempuan) yang menyadari perlunya persiapan dan perencanaan yang matang sebelum menjalani kehidupan berkeluarga.

Persiapan dan perencanaan berkeluarga penting dipahami remaja sebagai calon pasangan yang akan berkeluarga dalam upaya membangun keluarga berkualitas. Oleh karena itu, Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional melalui Direktorat Bina Ketahanan Remaja dan Direktorat Advokasi dan KIE yang bekerjasama dengan Departemen Ilmu Keluarga dan Konsumen, Fakultas Ekologi Manusia IPB menyelenggarakan Diskusi Pakar/Ahli dan Pemangku Kepentingan tentang Kesiapan dan Perencanaan Berkeluarga bagi Remaja, yang dibuka oleh Plt. Kepala BKKBN, dr Sigit Priohutomo di Hotel Park Lane, Jakarta, pada Kamis (30/08/2018)

Kegiatan ini menghadirkan beberapa narasumber seperti Prof. Dr. Ir. Euis Sunarti, M.Si, MS, Prof. Dr. Bambang Shergi Laksmono, M.Sc, Roslina Verauli (Psikolog), Dr. Sudibyo Alimoeso, MA (Ketua Umum i-Parent), Dede Yusuf M.E., ST, M.Si (Ketua Komisi IX DPR RI), Iwan Setiawan (Pakar Komunikasi Digital), Septian (Pergizi Pangan), Wildanshah dan Restu Utami (Pasangan Keluarga Muda), dan Nordianto (Ketua Forum Generasi Berencana Indonesia (FGI)).

Pendapat para pakar/ahli, pemangku kepentingan, praktisi dan keluarga muda, termasuk perwakilan remaja dari Forum Genre Indonesia dalam pertemuan ini, akan dirangkum menjadi variabel dan indikator terkait kesiapan dan perencanaan berkeluarga bagi remaja yang komprehensif, yang dimana nantinya akan diformulasikan menjadi Indeks Kesiapan dan Perencanaan Berkeluarga. Dalam sambutan nya, Plt. Kepala BKKBN mengatakan Indeks tersebut dapat menjadi ukuran indikator kinerja Pembinaan Ketahanan Remaja dalam Renstra BKKBN 2020 – 2024, juga dapat digunakan sebagai bahan pengambilan kebijakan terkait upaya pencegahan perkawinan anak, perkawinan dini dan perkawinan paksa (indikator SDGs tujuan 3 dan 5).

Untuk selanjutnya, variabel dan indikator ini juga akan dikembangkan menjadi modul/materi dan aplikasi tentang Kesiapan dan Perencanaan Berkeluarga bagi Remaja. “Modul tersebut sebagai sumber informasi yang dapat diakses remaja agar mengetahui tentang aspek-aspek yang harus disiapkan sebelum pernikahan. Sedangkan Aplikasi Kesiapan dan Perencanaan Berkeluarga dirancang sebagai alat bantu pengukuran mandiri kesiapan menikah bagi remaja yang diimplementasikan pada platform media komunikasi yang banyak digunakan remaja” jelas Sigit.

Hasil yang diharapkan dari diskusi ini terinventarisasinya variabel dan indikator terkait kesiapan dan perencanaan berkeluarga bagi remaja secara komprehensif. “Melalui aplikasi tersebut diharapkan dapat membantu remaja mengukur kesiapan dirinya untuk menikah dan membantu remaja dalam pengambilan keputusan untuk menikah” tutup nya. (HUMAS)

 

sumber : bkkbn.go.id

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Product added successful