Dampak Lain Dari Pernikahan Anak Bukan Hanya Kekerasan Fisik

Gak bisa dipungkiri bahwa pernikahan anak memiliki berbagai konsekuensi psikologis bagi anak. Studi-studi sebelumnya menunjukkan dampak psikologis seperti;

  1. Resiko lebih tinggi mengalami Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT): anak perempuan yang menikah di bawah usia 18 tahun memiliki kemungkinan lebih tinggi untuk mengalami KDRT sebanyak 50%
  2. Tingkat depresi dan kecemasan yang lebih tinggi
  3. Resiko lebih besar memiliki pikiran mengenai bunuh diri
  4. Kesejahteraan hidup yang lebih rendah

Tidak membingungkan mengapa pernikahan anak dapat menyebabkan kondisi-kondisi psikologis di atas. Seorang anak yang dipaksa untuk menikah harus melepaskan kebebasannya, dan sering kali rencana masa depan dan impian-impiannya. Seorang anak yang masih bertumbuh juga kemungkinan besar belum siap untuk menghadapi tanggung jawab yang ada ketika sudah menikah dan berkeluarga. .
Dampak-dampak fisik dan psikologis sudah cukup menunjukkan bahwa pernikahan anak adalah fenomena yang perlu dihentikan. Tapi, sebenarnya ada tambahan dampak dari sisi ekonomis juga lohh.
apa sih pengaruh pernikahan anak dari sisi ekonomis? Katanya pernikahan anak sering dilakukan karena alasan ekonomis, tapi apakah benar pernikahan anak menguntungkan secara ekonomis?

Walaupun mungkin kondisi keuangan yang buruk mendorong terjadinya pernikahan anak, kenyataanya fenomena ini justru membawa dampak yang buruk bagi ekonomi. Gimana tuh ceritanya bisa sampai begitu? Yuk langsung aja kita liat bareng-bareng!
Penelitian yang dilakukan di 15 negara pada tahun 2015 menunjukkan kerugian apa saja yang dialami oleh anak yang mengalami pernikahan dan juga negara dan masyarakat secara umum. Ternyata, penelitian menunjukkan bahwa:

  1. Pernikahan anak adalah alasan #1 mengapa anak perempuan tidak melanjutkan pendidikan menengah. Ga heran mengapa ketika dewasa, pendapatan perempuan yang mengalami pernikahan anak itu rata-rata lebih rendah dari yang tidak mengalami.
  2. Adanya pengeluaran tambahan untuk menangani komplikasi kesehatan perempuan dan bayi. Nah, kemarin kan udah di jelasin masalah kesehatan yang dialami anak oleh karena pernikahan dan kehamilan di usia dini. Tentunya untuk menangani masalah-masalah kesehatan ini butuh ongkos, bukan?
  3. Di Indonesia pada tahun 2014, estimasi minimal beban pernikahan anak adalah sebesar 1.7% PDB (Produk Domestik Bruto alias GDP) tahun tersebut. Itu jumlahnya mencapai $15 milyar lho!
    Bahkan, jika pernikahan anak dihapuskan, estimasi pendapatan dan produktivitas yang bisa didapatkan mencapai $26 milyar. Wah.. Bayangin, sumber daya yang sebesar itu sebenarnya bisa dipakai untuk apa saja!

Ga bisa dipungkiri lagi ya dampak-dampak negatif pernikahan anak. Bersyukurnya, Indonesia belum lama ini baru mensah-kan usia minimal menikah anak menjadi 19 tahun dari 16 tahun. Hal ini tentunya baik, tapi masih perlu dilengkapi dengan intervensi-intervensi lain seperti pendidikan seksualitas, meningkatkan akses ke pendidikan tinggi bagi perempuan dan anak, dan mensosialisasikan keseteraan gender.

Sumber : WHO , Equality Now , Girls Not Brides , TABU.id dan Research Gate

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *