Nge-“Geng” Boleh, Asal..

Hampir semua kalangan, khususnya kita bahkan orang tua pernah mengalami bentuk pertemanan kelompok, yang populer disebut “geng”. Sebenarnya, geng memiliki arti negatif, yaitu sekelompok anak muda yang sering menghabiskan waktu bersama dan melakukan kegiatan berisiko seperti berkelahi. Namun, masyarakat pada umumnya mengartikan geng sebagai kelompok pertemanan atau klik (clique). Dalam istilah sosiologi, klik mengacu pada kelompok yang beranggotakan 2-12 orang yang sering berinteraksi bersama karena memiliki kesamaan minat dan nilai-nilai (values). Kelompok seperti ini jamak ditemukan pada usia SMP atau SMA, meskipun dapat mulai terbentuk sejak kelas 4-5 SD.

Apakah wajar jika memiliki “geng”?

Ya, hal tersebut wajar. Menurut Dr.Marie Hartwell-Walker, psikolog yang juga menulis e-book parenting, Tending The Family Heart, remaja mencari petunjuk, rasa aman, dan penerimaan dari “geng” seiring dengan proses kemandirian yang membuat mereka perlahan melepaskan diri dari orang tua. Rasa aman ini khususnya penting bagi remaja yang belum percaya diri dan konsep dirinya masih labil. 

Apakah sisi positifnya?

Biasanya, remaja tidak langsung cocok di satu “geng”, yang kemudian membuatnya beralih ke kelompok pertemanan yang lebih nyambung secara pemikiran dan memiliki sejumlah persamaan. Hal ini membuat remaja belajar mengenal siapa dirinya dengan lebih baik dan kelak mampu membangun konsep dirinya. Namun, untuk bisa membawa dampak positif seperti ini, sebuah “geng” harus memiliki pola pertemanan yang sehat, dimana remaja merasa nyaman menjadi dirinya sendiri, mendapatkan dukungan di saat senang maupun susah, dan menunjukkan kemajuan dalam sejumlah hal seperti akademis, minat/bakat, perilaku. 

Teman-teman dalam “geng” ini biasanya juga sudah mengenal anggota keluarga teman-teman satu “geng”nya, sering bepergian bersama, bahkan memiliki identitas kelompok seperti nama. Bukan tidak mungkin, ikatan pertemanan yang terjalin tidak lekang oleh waktu, meski sudah berumah tangga dan memiliki anak..

Apa yang harus di waspadai dari “geng”?

Dr.Marie Hartwell-Walker menyebutkan beberapa ciri “geng” yang harus diwaspadai, yaitu ketika “geng” tersebut terbentuk karena alasan popularitas, memiliki ketua “geng” yang karismatik dan memiliki kontrol, ada peraturan yang mengikat anggotanya, tidak terbuka terhadap orang luar alias eksklusif. Remaja yang memiliki “geng” seperti ini biasanya menggantungkan identitasnya pada “geng”. Dampaknya, jika ia tidak sejalan dengan teman-temannya di kelompok tersebut, ia bisa dikeluarkan dari “geng”. Bagi remaja, hal ini sama dengan kehilangan identitas. Yang menjadi masalah adalah ketika “geng” yang ia ikuti ternyata gemar melakukan hal negatif, dan remaja tidak kuasa untuk menolak melakukan hal tersebut.

Bagaimana agar tidak terjebak dalam “geng” yang salah?

Melarang remaja untuk menjauhi teman tertentu, apalagi yang berasal dari lingkup pertemanan terdekatnya sama saja menabuh genderang perang. Berikut ini yang mampu mendorongnya untuk sadar ketika geng-nya mulai melanggar batas.

1. Motivasi memiliki “geng”

Apa motivasi awal membentuk atau bergabung dengan “geng” tersebut? Apakah kesamaan minat, kesamaan aktivitas, kesamaan ekskul/kelas/lokasi tempat tinggal, atau karena geng tersebut mampu memberi prestige (gengsi)? 

2. Memastikan tetap dapat menjadi diri sendiri

Jika motivasi kita adalah mendapatkan pengakuan dan identitas kelompok, maka pastikan kita tidak kehilangan jati diri. Terkadang, agar bisa masuk ke dalam suatu kelompok, remaja bisa menunjukkan perilaku yang diharapkan oleh anggota kelompok lainnya, baik dalam bentuk cara bicara, cara berpakaian, hobi, atau solidaritasnya terhadap geng tersebut. Apabila kita mulai merasa selalu berpura-pura, maka sebaiknya kita mempertimbangkan untuk mencari teman yang lebih cocok.

3. Tidak ada larangan berteman dengan orang lain

Sejumlah geng menjaga status sosial mereka dengan cara membatasi pergaulan anggotanya dengan orang lain. Interaksi yang intens dengan orang lain dapat menimbulkan kecemburuan anggota “geng” yang lain. Ketika kita sudah tidak merasa merdeka untuk berteman dengan siapapun, kita harus berani menyuarakan rasa keberatannya.

4. Tidak terlibat dalam hal terlarang

Poin ini sangat jelas, namun ketika kita berada di dalam kelompok seolah mendapatkan suntikan keberanian. Hal ini berhubungan dengan perkembangan otak kita dan perubahan hormon. Karenanya, kita dapat membuat daftar hal-hal berbahaya yang harus dihindari dalam situasi apapun demi kebaikan dan masa depan kita nantinya.

5. Tidak membawa pengaruh negatif

Standar negatif bagi orang tua dan remaja bisa jadi berbeda. Remaja menganggap kata-kata kasar adalah hal yang wajar dalam pergaulan laki-laki, namun orang tua merasa terganggu. Mengembalikan perbedaan standar ke dalam nilai-nilai keluarga dapat menjadi solusi.

Sumber : SKATA.INFO – Menur Adhiyasasti

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *